//
you're reading...
Silsilah Hadits Shahih

Silsilah Ash-Shohihah No. 5


Tidak diragukan lagi bahwa kemenangan kedua mendorong adanya kebutuhan terhadap Khalifah yang tangguh. Hal inilah yang telah diberitakan oleh Rosullulloh صلىالله عليه وسلم melalui sabdanya :

Silsilah Hadits Shohih - 5

“Kenabian telah terwujud antara kamu sesuai dengan kehendak Allah. Kemudian Dia akan menghilangkannya sesuai dengan kehendak-nya, setelah itu ada khilafah yang sesuai dengan kenabian tersebut, sesuai dengan kehendak-Nya pula. Kemudian Dia akan menghapusnya juga sesuai dengan kehenda-Nya. Lalu ada raja yang gigih (berpegang teguh dalam memperjuangkan Islam), sesuai dengan kehendak-Nya. Setelah itu ada seorang raja diktator bertangan besi, dan semua berjalan sesuai dengan kehendak-Nya pula. Lalu dia akan menghapusnya jika menghendaki untuk menghapusnya. Kemudian ada khilafah yang sesuai dengan tuntunan Nabi.” Lalu dia diam.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (IV/273). Kami mendapatkan riwayat dari Sulaiman ibn Dawud ath-Thoyalisi, juga dari Dawud ibn Ibrahim al-Washiti, Hubaib ibn Salim, dan Nu’man ibn Basyir yang mengisahkan, “kami sedang duduk-duduk di masjid”. Basyir adalah seorang yang sering menyembunyikan haditsnya. Lalu datanglah Abu Tsa’labah al-Khosyafi dan bertanya: “Wahai Basyir ibn Sa’id, Apakah engkau menghafal hadits Rosul tentang Umaro? Tetapi kemudian, Khudzaifahlah yang justru menjawab: “Saya menghapal khutbahnya.”

Mendengar itu kemudian Abu Tsa’labah duduk, sementara Khudzaifah selanjutnya meriwayatkan hadits itu secara marfu’.

Hubaib mengomentari dengan menceritakan: “Tatkala Umar ibn Abdulazis mulai tampil dan saya mengetahui bahwa Yazid ibn Nu’man ibn Basyir menjadi pengikutnya, maka saya menulis surat kepadanya, berisikan tentang hadits ini. Saya memperingatkan dengan mengatakan kepadanya: Saya berharap agar beliau (Umar ibn Abdulazis) benar-benar bisa menjadi Amirul Mukmin setelah adanya raja yang gigih memperjuangkan agama sebelum dia naik tahta. Lalu surat saya itu disampaikan kepada Umar ibn Abdul’Azis. Dia merasa gembira dan mengaguminya.

Melalui sanad Ahmad, hadits itu juga diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Iraq di dalam Mahajjat al-Ghurab ila Mahabbat al-‘Arab (II/17). Selanjutnya al-Hafizh mengatakan:

“Status hadits ini shohih. Ibrahim ibn Dawud al-Washiti dinilai tsiqoh (baik akhlaknya dan kuat ingatannya) oleh Abu Dawud, ath-Thoyalisi dan ibn Hiban. Sedangkan perawi-perawi yang lain bisa dibuat hujjah di dalam menetapkan hadits shohih.”

Yang dimaksud al-Hafizh ini adalah yang terdapat di dalam kitab Shahih Muslim, tetapi mengenai Hubaib oleh al-Bukhori dinilainya dengan “fihi nadhorun” (ungkapan yang menunjukan masih diragukannya keabsahan seorang perawi). Sedangkan ibn Adi mengatakan: dalam matan hadits yang diriwayatkan (Hubaib) tidak terdapat hadits munkar (hadits yang ditolak), tetapi ia telah memutarbalik sanadnya (mudhthorib). Akan tetapi Abu Hatim, Abu Dawud dan Ibn Hiban menilainya tsiqoh. Oleh karena itu, setidak-tidaknya nilai haditsnya adalah hasan. Bahkan al-Hafizh menilainya: La ba’sa bihi. (Lafazh ta’dil tingkat ke empat). Perawi yang dinilai dengan lafazh pada tingkat ini haditsnya bisa dipakai, tetapi harus dilihat kesesuaiannya dengan perawi-perawi lain yang dhobit (kuat ingatannya), sebab lafazh itu tidak menunjukan ke-dhobit-an seorang perawi.

Hadits yang senada (syahid) disebutkan di dalam Musnad karya ath-Thoyalisi (nomor:438): ”Saya diberi riwayat oleh Dawud al-Wasithi -ia adalah orang yang tsiqoh, ia menceritakan: “Saya mendengar hadits itu dari Hubaib ibn Salim. Tetapi dalam matan hadits tersebut ada yang tercecer matannya. Tapi kemudian ditutup (dilengkapi) dengan hadits dari Musnad Ahmad.

Al-Haitsami di dalam kitabnya alMajma’ (V/189) menjelaskan: “Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad, sedangkan al-Bazzar juga meriwayatkan, namun lebih sempurna lagi. Imam ath-Thobroni juga meriwayatkan sebagian dalam kitabnya alAusath dan perawi-perawinya adalah tsiqoh.”

Dengan demikian menurut saya, kecil sekali kemungkinannya hadits tersebut diriwayatkan oleh Umar ibn Abdulazis, sebab masa pemerintahannya adalah masa Khulafa’ ar-Rosyidin, yang jaraknya setelah dua masa pemerintahan dua orang raja.

About Abu Fathan As Salafy

Anak Yang Tampan

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: