//
you're reading...
Silsilah Hadits Shahih

Silsilah Ash-Shohihah No. 7-9


ANJURAN ISLAM UNTUK MEMBUAT LAHAN MENJADI PRODUKTIF

Dalam anjuran ini, ada beberapa hadis yang mendukung, namun akan saya sebutkan beberapa diantaranya:

Pertama, dari Anas Rodhiyallohu ‘anhu bahwa Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

  Seorang Muslim yang menanam atau menabur benih, lalu dia sebagian yang dimakan oleh burung dan manusia, ataupun oleh binatang, niscaya semua itu akan menjadi sedekah baginya.”

        Hadis itu diriwayatkan oleh Imam Bukhari (2/67,cet.Eropa), Imam Muslim ( 5/28 ) dan Imam Ahmad (3/147).

Dari jabir Rodhiyallohu ‘anhu secara marfu’: “Seorang Muslim yang menanam suatu tanaman, niscaya apa yang termakan akan menjadi sedekah, apa yang tercuri akan menjadi sedekah, apa yang termakan oleh burung akan menjadi sedekah, dan apapun yang diambil oleh seseorang dari tanaman itu akan menjadi sedekah pula bagi (pemilik)-nya (sampai hari kiamat datang).”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jabir Rodhiyallohu ‘anhu yang kemudian diriwayatkan secara bersama dengan Imam Ahmad (3/391) dari sanad lain yang senada, yang fungsinya sebagai penguat, (penerjemah). Yaitu hadis-hadis lainnya yang juga berfungsi sebagai syahid, disebutkan oleh al-Mundziri dalam at-Targhib (3/224,245).

Diceritakan oleh Anas Rodhiyallohu ‘anhu dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Kendatipun hari kiamat akan terjadi, sementara di tengah salah seorang di antara kamu masih ada bibit pohon korma, jika ia ingin hari kiamat tidak akan terjadi sebelum ia menanamnya, maka hendaklah ia menanamnya.”

 Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad (3/183, 184, 191),ath-Thayalisi (hadis nomor 2078), Imam Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad (hadis nomor 479) dan Ibn al-Arabi didalam kitabnya al-Mu’jam (1/21), yang dikutip dari hadis Hisyam ibn Yazid dari Anas Rodhiyallohu ‘anhu.

Inilah sanad yang sahih sesuai dengan syarat yang ditetapkan oleh Imam Muslim, yang diperkuat dengan hadis muttabi’ (searti dengan syahid) yang diriwayatkan oleh Yahya ibn Sa’id dari Anas Rodhiyallohu ‘anhu Hadis ini juga ditakhrij oleh Ibn Adi di dalam al-kamil (1/316).

Sedangkan al-Haitsami mentahrijnya (menyampaikan) dengan meringkas redaksinya di dalam al-Majma’ (4/63), dan mengatakan: “Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bazzar. Perawi-perawinya adalah tsiqah.

Sebagaimana telah saya jelaskan, bahwa hadis ini oleh Imam Ahmad disebutkan dengan reaksi lebih panjang.

Kata al-fasilah searah dengan kata al-wadiyyah, yaitu anak pohon korma (bibitnya).

Selain hadis-hadis tersebut, tampaknya tidak ada hadis lain yang lebih menunjukan adanya anjuran untuk menjadikan lahan agar lebih produktif, lebih-lebih hadis yang terakhir di atas di mana menyiratkan pesan yang cukup dalam agar seseorang memanfaatkan masa hidupnya untuk menanam sesuatu yang dapat dinikmati oleh orang-orang sesudahnya,hingga pahalanya tetap mengalir sampai hari kiamat tiba. Hal itu akan ditulis sebagai amal sedekahnya (sedekah jariyah).

Imam Bukhari menerjemahkan hadis ini dengan penjelasannya: “Bab Ishthina’ al-Mal”. Kemudian hadis itu diriwayatkan oleh al-Haris ibn Laqith, ia mengatakan: “Ada seseorang di antara kami yang memiliki kuda yang telah beranak-pinak, lalu disembelihnya kuda itu. Setelah itu ada surat dari ‘Umar yang datang kepada kami, yang isinya: “Peliharalah dengan baik rezeki yang telah diberikan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala kepada kalian. Sebab hal yang demikian itu terdapat kemudahan bagi pemiliknya.” Sanad hadis tersebut adalah sahih.

Sementara itu ada lagi hadis lain yang diriwatkan oleh Dawud dengan sanad sahih, ia mengatakan: “Abdullah ibn Salam berkata kepadaku:

“Jika engkau mendengar bahwa Dajjal telah keluar, padahal engkau masih menanam bibit korma, maka janganlah engkau tergesa-gesa memperbaikinya, karena masih ada kehidupan bagi manusia setelah itu.”

Yang dimaksud Dawud di sini adalah Abu Dawud al-Anshari. Ia dinilai oleh al-Hafizh Ibn Hajar sebagai orang yang diterima hadisnya (maqbul).

Ibn Jarir juga meriwayatkan sebuah hadis yang berasal dari Ammarah ibn Khuzaimah ibn Tsabit, yang berkata:

Saya mendengar Umar ibn Khaththab berkata kepada Ayahku: ‘apa yang menghalangimu untuk menanami tanahmu?’ Ayah saya menjawab: ‘Saya sudah tua dan besok akan mati’. Kemudian Umar berkata: ‘Aku benar-benar menghimbaumu agar engkau mau menanaminya’. Tak lama kemudian saya benar-benar melihatnya (Umar ibn Khaththab) menanam sendiri bersama ayah saya.” Hadis ini bisa dilihat di dalam al-jami’ al-Kabir, karya as-Suyuthi (3/337/2)

Oleh karena itu ada sebagian sahabat yang menganggap bahwa orang yang bekerja untuk mengolah dan memanfaatkan lahannya adalah karyawan Allah Subhanallohu wa Ta’ala. Imam Bukhari di dalam kitabnya al-Adab al-Mufrad ( nomor: 448 ) meriwayatkan sebuah hadis dari Nafi’ibn’Ashim, bahwa ia mendengar Abdullah ibn Amr berkata kepada salah seorang anak kandungnya yang keluar ke tanah lapang (kebun): “Apakah para karyawanmu sedang bekerja?”

“Saya tidak tahu”, jawab anak kandungnya.

Lalu Abdullah ibn Amr menyambung: “Seandainya engkau orang yang terdidik, niscaya engkau akan tahu apa yang sedang dikerjakan oleh para karyawanmu.” Kemudian ia (Abdullah ibn Amr) menoleh kepada kami, seraya berkata: “Jika seseorang bekerja bersama para karyawannya di rumahnya.” (Dalam kesempatan lain, perawi berkata: “Pada apa yang dimilikinya”), maka ia termasuk karyawan Allah Subhanallohu wa Ta’ala

Insya Allah sanad hadis ini hasan.

Kata al-wahtu di sini berarti al-bustan (kebun), yaitu tanah lapang yang luas milik Amr ibn Ash yang berada di Thaif, kurang lebih tiga mil dari Wajj. Tanah itu telah diwariskan kepada anak-anaknya (termasuk Abdullah). Ibn Asakir meriwayatkan di dalam kitabnya at-Tharikh (13/264/12) dengan sanad yang sahih dari Amr ibn Dinar, Ia mengatakan: “Amr ibn Ash berjalan memasuki sebidang kebun miliknya yang satu juta kayu yang dipergunakan untuk menegakkan pohon anggur. Satu batangnya dibeli dengan harga satu dirham.

Itulah beberapa perkataan sahabat yang muncul akibat memahami hadis-hadis diatas.

Imam Bukhari memberi judul untuk dua hadis yang pertama dengan judul: “Keutamaan tanaman yang dapat dimakan”. Di dalam kitab Shahih-nya .Dalam hal ini Ibn al-Munir berkomentar:

Imam Bukhari memberi isyarat tentang kebolehan bertanam. Adapun larangan bertanam, seperti dikatakan oleh Umar adalah apabila pekerjaan bertanam itu sampai melalaikan perang atau tugas lain yang lebih mendesak untuk dilaksanakan. Oleh karena itu,hadis Abi Ummah diletakkan pada bab berikutnya.

Hadis itu akan saya sebutkan pada bab yang akan datang, insya Allah.

About Abu Fathan As Salafy

Anak Yang Tampan

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: