//
you're reading...
Artikel

Membunuh Syubhat Aman Abdur Rohman


بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد
لله حمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه, كما يحب ربنا ويرضى, وأشهد أن لا إله إلا
الله وحده لا شريك له, وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
Amma ba’du:
Alloh ta’ala berfirman:

لا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ
أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ
مَرْضَاةِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
Tidak
ada kebaikan pada kebanyakan bisikan – bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan
dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau
mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian
karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.
(QS. An Nisa’ ayat 114)
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ
وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ
الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah
orang-orang yang beruntung.(QS. Ali Imron ayat 104)
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ
بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ
آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ
وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang
makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya
Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada
yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali
Imron ayat 110)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ
شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ
إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلا تَتَّبِعُوا
الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ
بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
Wahai
orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan,
menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan
kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu
kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang
dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi
saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu
kerjaan. (QS. An Nisa’ ayat 135)
Dari Abu Dzar al Ghifariy rodliyallohu ‘anhu
bahwasanya Rosululloh bersabda memerintahkan tujuh perkara, diantaranya:
sampaikanlah kebenaran meskipun pahit rasanya. (HR. Ahmad)
Dari Tamim
ad Daari
rodliyallohu ‘anhu ia berkata: bahwasanya
Rosululloh bersabda:
« الدِّينُ النَّصِيحَةُ »
قِيْلَ: لِمَنْ يا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ: « لِلَّهِ, وَلِكِتَابِهِ,
وَلِرَسُولِهِ, وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
Agama itu
adalah nasihat”.
Rosululloh ditanya: ”Untuk siapa?” Beliau
bersabda: ”Untuk Alloh, kitab-Nya, rosul-Nya, pemimpin-pemimpin umat islam,
dan untuk seluruh muslimin.”
(HR.Muslim)
Ini adalah
sebagian dalil – dalil yang dipakai kaum muslimin dan para Ulama dalam hal
wajibnya membantah Ahlul Bid’ah. Dan Aku memuji Alloh Azza wa Jalla yang telah
memberi  kemampuan, taufiq, hidayah dan
pertolongan sehingga Aku dapat membantah diantara syubhat – syubhat para
Mufsidin (perusak) yang mengklaim diri merea sebagai Mujahidin (Pejuang). Dan
tidaklah Ahlus Sunnah berupaya membantah Ahlul Bid’ah melainkan mereka akan
menjadi rendah dan hina. Benarlah apa yang disabdakan Rosululloh:
وَجُعِلَت الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ
خَالَفَ أَمْرِي
Dijadikan  hina dan
rendah atas orang yang menyelisihi urusanku(Agamaku).
Alloh ta’ala
juga mengancam terhadap orang yang menyeleweng dari agamnya, sebagaimana dalam
firmanNya:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ
فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
maka
hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan
atau ditimpa azab yang pedih. (QS. An Nur ayat 63)
Alloh ta’ala juga akan merendahkan mereka,
maha benar Alloh ta’ala yang telah berfirman dalam al Qur’an:
وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ
يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ
barang
siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya
Allah berbuat apa yang Dia kehendaki
. (QS. Al Hajj ayat 18)
Telah kesekian kalinya orang
yang bernama Abu Sulaiman Aman Abdur Rohman membuat sebuah tulisan yang
berputar dalam permasalahan tahkim dengan judul
“BAIK BAGI SEMUA PENEGAK HUKUM”,
meskipun berganti – ganti judul inti dan maksudnya tetap sama yaitu
mengkafirkan penguasa yang tidak berhukum dengan hokum Alloh!. Maha suci Alloh
yang telah berfirman dalam al Qur’an:
أَتَوَاصَوْا بِهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ
Apakah
mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah
kaum yang melampaui batas. (QS. Adz Dzariyat ayat 53)
Alangkah  bagusnya apa yang diucapkan oleh Imam Al
Ajurri dalam kitab beliau Asy Syari’ah hal 27: dan diantara ayat – ayat
mutasyabihat yang diikuti oleh Khowarij adalah:
) وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ
الْكَافِرُونَ
( 
Apabila mereka melihat pemimpin yang tidak
berhukum dengan hokum Alloh, mereka berkata: penguasa telah kafir!.
Alangkah bagusnya pula apa
yang dikatakan imam Abu Hayyan: khowarij berhujjah dengan ayat ini bahwa setiap
orang yang bermaksiat kepada Alloh adalah kafir, dan mereka juga berkata:
setiap orang yang tidak berhukum dengan hukum Alloh adalah kafir!. (al Bahrul
Muhith 3/493)
Pada judul diatas kami
menyebut Siluman sebagai ganti dari nama Abu Sulaiman, karena
﴿ إِنَّ
شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
* وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ
وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ ﴾.
Sesungguhnya
binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang
pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun.(QS. Al Anfal ayat 22)
Alloh juga berfirman:
فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلا خِزْيٌ فِي
الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ
وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Tiadalah Balasan bagi
orang yang berbuat demikian dari kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan
dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.
Allah tidak lengah dari apa yang kalian perbuat. (QS. Al Baqoroh ayat 85)
وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ
سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ مَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ
عَاصِمٍ كَأَنَّمَا أُغْشِيَتْ وُجُوهُهُمْ قِطَعًا مِنَ اللَّيْلِ مُظْلِمًا
Dan orang-orang yang
mengerjakan kejahatan (mendapat) Balasan yang setimpal dan mereka ditutupi
kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (adzab) Allah,
seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap
gulita. (QS. Yunus ayat 27)
Ibnul Qoyyim berkata dalam Tuhfatul Maulud:
Antara nama dan yang dinamai ada
hubungan dan keterkaiatan satu sama lain yang saling bersesuaian, jarang sekali
ada perbedaan (ketidak selarasan), karena lafadz terbentuk makna sedangkan nama
akan terbentuk yang dinamai :
Dan jarang kedua matamu melihat
seorang yang mempunyai julukan == melainkan kepribadiannya adalah jika engkau
memikirkan, tentu ada pada [makna] julukannya tersebut.
Dengan demikian jeleknya suatu nama
merupakan alamat/tanda jeleknya yang dinamai sebagaimana jeleknya [dhohir]
wajah merupakan tanda jeleknya batinnya.
Dan untuk membunuh syubhat
Abu Siluman kami bagi menjadi dua bagian yaitu secara global dan terperinci.
 Adapun
secara global adalah:
Syeikh Salim
bin Ied al Hilali berkata:
“perkataan
bahwa Tahkim kepada undang-undang buatan manusia adalah syirik akbar
berdasarkan ijma ulama ” adalah salah. Sebab meninggalkan hukum yang telah
diturunkan Allah atau berhukum dengan undang-undang buatan manusia akan menjadi
kufur akbar harus dengan syarat-syarat tertentu, diantaranya : Bahwa penguasa
berhukum dengan hal-hal yang bertentangan dengan hukum Allah, sebab banyak juga
undang-undang buatan manusia yang tidak bertentangan dengan syari’at Allah.
Sebab
kata-kata “undang-undang buatan manusia” harus dikaitkan dengan yang
bertentangan dengan syariat. Undang-undang buatan manusia pada zaman ini memang
hasil buatan mereka tetapi banyak yang tidak bertentangan dan sesuai dengan
syariat, masih dalam cakupan kaedah Islam dan merupakan masalih mursalah. Oleh
karena itu para Ulama kita berusaha keras untuk mengkaitkan UU
(undang-undang)ini dengan yang bertentangan dengan syariat ataupun hukum Allah
dan ketetapan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam. Tahkim undang-undang
buatan manusia menurut Ulama, terkadang bisa menjadi kufur akbar, terkadang
menjadi kufur asghar, inilah dia ijma ummat dan yang berlandaskan dengan atsar
Ibn Abbas :
“Bukanlah
kufur sebenarnya apa yang menjadi pendapat kalian sekarang ini, tetapi
merupakan kufr duna kufr. Oleh karena itu seluruh ahli tafsir mengambil kata
ini ketika menafsirkan ayat : “Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa
yang Allah turunkan maka mereka adalah orang-orang kafir”.
Kesimpulannya
Tidaklah seorang penguasa menjadi kafir kecuali jika menghalalkan untuk
berhukum dengan selain yang Allah turunkan.
Oleh
karena itu sebenarnya isu-isu yang merusak seputar hal ini selalu
digembar-gemborkan oleh orang-orang Sururi, yang beranggapan bahwa hukum dengan
selain yang Allah turunkan kafir dengan sendirinya –alangkah jelek yang mereka
katakan– dan aku tidak pernah tahu ada sorang yang berilmu dan komitment
dengan sunnah berkata seperti mereka sebelumnya, dalam hal ini rujukan mereka
adalah Sayyid Qutb saja.

 

Intinya
kita harus membeda-bedakah hukum, jika seorang penguasa menghalalkan sesuatu
selain yang diturunkan Allah, jika dia mengganggap baik hukum selain hukum
Allah, jika dia menyatakan bahwa dia bebas memilih antara hukum Islam dan bukan
hukum Islam, jika dia mengatakan bahwa hukum Islam tidak wajib diterapkannya,
maka hal ini yang menjadi kufur akbar, ditambah dengan tahaqquq as-syurut wa
imtina’ul mawani’ (persyaratan tertentu yang lengkap padanya dan tidak adanya
lagi hal-hal yang menghalangi).
Adapun
jika dia menerapkan hukum ini karena mengikuti hawa nafsu, karena kepentingan
tertentu atau karena disuap maka hal ini kufur duna kufr yaitu jatuh pada
kategori kufur asghar tidak mengeluarkannya dari agama Islam. Ini penting
diketahui dalam masalah ini. Adapun duduk beserta mereka baik yang jatuh kepada
kufur akbar maupun kufur asghar dalam hal ini, maka hukumnya terlarang kecuali
bagi para duat mukhlisin yang menasehati mereka untuk ruju’ kepada kitab Allah
dan Sunnah Rasulnya. Karena hal ini adalah istihza mengolok-olok ayat Allah
maka jangalah kita duduk bersama mereka atau bergabung dengan mereka.
Sesungguhnya kaum Quraisy memiliki parlemen yaitu Darun Nadwah, tetapi apakah
pernah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam masuk dan turut serta dengan
mereka? Kecuali bagi da’i yang mukhlis dan mau menyeru mereka dan melarang
mereka. Wabillahi At-Taufiq. (selesai penukilan)
Syeikh
Albani berkata: kalian ini tidak dapat menghukumi setiap hakim (penguasa) yang
memakai undang-undang Barat yang kafir itu atau sebagian dari udang-undang itu
bahwa jika ia ditanya alasannya ia akan menjawab : Memakai undang-undang Barat
itu bagus dan cocok pada zaman sekarang ini, atau ia akan menjawab : Tidak
boleh menerapkan Hukum Islam !.

Sekiranya
para Hakim itu ditanya alasannya maka kalian tidak dapat memastikan bahwa
jawaban mereka adalah “Hukum Islam sekarang ini tidak layak
diterapkan!”. Kalau begitu jawabannya, mereka tentunya kafir tanpa
diragukan lagi. Demikian pula jika kita tujukan pertanyaan serupa kepada
masyarakat umum, di antara mereka terdapat para ulama, orang shalih dan
lain-lain …? Lalu bagaimana mungkin kalian dapat menjatuhkan vonis kafir
terhadap mereka hanya karena melihat hidup di bawah naungan undang-undang
tersebut sama seperti mereka. Hanya saja kalian menyatakan terang-terangan
bahwa mereka semua itu kafir dan murtad…..”

Kemudian
Syaikh Al-Albani berbicara seputar masalah berhukum dengan selain hukum Allah,
beliau berkata : “Kalian tidak dapat menghukumi kafir hingga ia menyatakan
apa yang ada dalam hatinya, yaitu menyatakan bahwa ia tidak bersedia memakai
hukum yang diturunkan Allah. Jika demikian pengakuannya barulah kalian dapat
menghukuminya kafir murtad dari agama….”.
Kemudian,
saya (Al-Albani) selalu memperingatkan mereka tentang masalah pengkafiran
penguasa kaum muslimin ini bahwa anggaplah penguasa itu benar-benar kafir
murtad, lalu apakah yang bisa kalian perbuat ? Orang-orang kafir itu telah
menguasai negeri-negeri Islam, sedang kita di sini menghadapi musibah
dijarahnya tanah Palestina oleh orang-orang Yahudi! Lalu apa yang bisa kita
lakukan terhadap mereka ? Apa yang dapat kalian lakukan hingga kalian dapat
menyelesaikan masalah kalian dengan para penguasa yang kalian anggap kafir itu
!? Tidaklah lebih baik kalian sisihkan dulu persoalan ini dan memulai kembali
dengan peletakkan asas yang di atas asas itulah pemerintahan Islam akan tegak!
Yaitu ‘ittiba’ (mengikuti) sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di
atas sunnah itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing
sahabat-sahabat beliau! Itulah istilah yang sering kami sebutkan dalam berbagai
kesempatan seperti ini yaitu setiap jama’ah Islam wajib berusaha
sungguh-sungguh menegakkan kembali hukum Islam, bukan saja di negeri Islam
bahkan di seluruh dunia. Dalam mewujudkan firman Allah :
“Artinya
: Dia-lah yang mengutus Rasulnya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar
agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik
benci” [Ash-Shaff : 9]
Dalam
beberapa hadits shahih disebutkan bahwa ayat ini kelak akan terwujud.
Bagaimanakah usaha kaum muslimin mewujudkan nash Al-Qur’an tersebut ? Apakah
dengan cara mengkudeta para penguasa yang telah dianggap kafir dan murtad itu ?
Lalu disamping anggapan mereka yang keliru itu mereka juga tidak sanggup
berbuat sesuatu ?! Jadi, bagaimana caranya ? Manakah jalannya ? Tidak syak lagi
jalannya adalah jalan yang sering disebut oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam dan beliau peringatkan kepada para sahabat di setiap khutbah :
“Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi
wa sallam!”.
Seluruh
kaum muslimin, terlebih orang-orang yang ingin menegakkan kembali hukum Islam,
wajib memulainya dari arah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulainya.
Itulah yang sering kita simpulkan dalam dua kalimat yang sederhana ini :
“Tashfiyah dan Tarbiyah!” Karena kami benar-benar mengetahui
kelompok-kelompok ekstrim yang hanya terfokus pada masalah pengkafiran penguasa
itu mengabaikan atau lebih tepatnya tidak mau peduli dengan kaidah Tashfiyah
dan Tarbiyah ini. Kemudian setelah itu tidak ada apa-apanya !
Mereka
akan terus menerus menyatakan vonis kafir terhadap penguasa, kemudian yang
mereka timbulkan setelah itu hanyalah fitnah (kekacauan)! Peristiwa yang
terjadi belakangan ini yang sama-sama mereka ketahui mulai dari peristiwa
berdarah di tanah suci (al-Haram) Makkah (Persitiwa Juhaiman di awal tahun
1980-an), kekacauan di Mesir, terbunuhnya presiden Anwar Sadat, tertumpahnya
sekian banyak jiwa kaum muslimin yang tidak bersalah akibat fitnah-fitnah
tersebut. Kemudian terakhir di Suriah, di Mesir sekarang ini dan di Aljazair
sungguh sangat disayangkan sekali… Kejadian-kejadian itu disebabkan mereka
banyak menyelisihi nash-nash Al-Qur’an dan as-Sunnah, yang paling penting
diantaranya adalah ayat :
“Artinya
: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah” [Al-Ahzab : 21]
Bagaimanakah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai perjuangan dakwahnya ?
“Kalian tentu mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
pertama kali menawarkan dakwahnya kepada orang-orang yang menurut harapan
beliau siap menerima kebenaran yang beliau sampaikan. Lalu beberapa orang
menyambut dakwah beliau sebagaimana yang sudah banyak diketahui dari Sirah
Nabawiyah. Kemudian dera siksa dan azab yang diderita oleh kaum muslimin di
Makkah. Kemudian turunlah perintah berhijrah yang pertama (ke Habasyah) dan
yang kedua (ke Madinah) serta berbagai peristiwa yang disebutkan dalam
buku-buku sirah ……. Hingga akhirnya Allah mengokohkan dienul Islam di
Madinah al-Munawwarah. Di saat itulah mulai terjadi pertempuran, mulailah pecah
peperangan antara kaum muslimin melawan orang-orang kafir di satu sisi dan melawan
orang-orang Yahudi di sisi yang lain.
Demikianlah
sejarah perjuangan nabi ….. Jadi, kita harus memulai dengan mengajarkan Islam
ini kepada manusia sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
memulainya. Akan tetapi sekarang ini kita tidak hanya memfokuskan diri kepada
masalah Tarbiyah ini. Apalagi sekarang ini sudah banyak sekali perkara-perkara
bid’ah yang disusupkan ke dalam Islam yang sebenarnya tidak termasuk ajaran
Islam dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam. Oleh sebab itu,
merupakan kewajiban para da’i sekarang ini adalah memulai dengan pemurnian
kembali ajaran Islam yang sudah tercemari ini (tashfiyah)….Kemudian perkara
kedua adalah proses Tasfiyah ini harus dibarengi dengan proses Tarbiyah, yaitu
membina generasi muda muslim dibawah bimbingan Islam yang murni tadi.
Apabila
kita pelajari jama’ah-jama’ah Islam yang ada sekarang ini yang didirikan hampir
seabad yang lalu, niscaya kita dapati banyak diantara para pengikutnya tidak
mendapatkan faedah apa-apa. Meskipun gaung dan gembar-gembornya mereka ingin
mendirikan negara Islam. Mereka telah menumpahkan darah orang-orang yang tidak
bersalah dengan dalih tersebut tanpa mendapatkan faedah apa-apa darinya !
Sampai sekarang masih sering kita dengar banyak diantara mereka yang memiliki
aqidah sesat, aqidah yang menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah serta amal-amal
yang bertolak belakang dengan al-Qur’an dan as-Sunnah ……
[Dinukil
dari Tabloid “Al-Muslimun” 5/5/1416H edisi : 556 halaman 7. dan dari
majalah “al-Buhuts al-Islamiyah” 49/373-377]
Sedangkan
secara terperinci adalah
:
Berhukum
dengan selain hukum Alloh tidaklah menyebabkan kufur akbar, tetapi kufur
ashghor sebagaimana telah dijelasan mengenai yang demikian itu oleh Ulama’
sunnah, akan tetapi juga bisa menjadi kufur akbar. perlu diketahui pendapat yang
mengatakan kufur ashghor bukan berarti meremehkan hukum Alloh.
Permasalahan
berhukum dengan selain hukum Alloh memiliki banyak keadaan, karena itu disana
banyak perkataan – perkataan ulama’ mengenainya. Semisal contoh:  apabila seorang hakim berhukum dengan selain
hukum Alloh karena hawa nafsunya sehingga ia membuat UU atau ia mengikuti UU
buatan manusia sebelumnya, maka apakah keadaan yang dikarenakan ketidak taatan
kepada Alloh dan karena kesalahan seperti ini
terhitung sebagai kekafiran yang mengeluarkan dari agama atau tidak?!.
(Al Burhanul Munir fii Dahdli Syubuhati ahlit Takfir wa Tafjir hal 9)
Seorang
Hakim yang tidak berhukum dengan hukum Alloh yang menyebabkan dirinya kafir
keluar dari Islam jikalau memiliki keadaan:
  1. Apabila Hakim itu Juhud
    dengan hukum Alloh, adapun makna juhud adalah bahwasanya ia mendustakan
    dan mengingkari Hukum Alloh
    dan hal ini adalah kafir akbar berdasarkan
    kesepakatan ulama’, Alloh berfirman:
وَجَحَدُوا بِهَا
وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا

Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan
(mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya. (QS. An Naml ayat 14)
فَإِنَّهُمْ لا يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ
اللَّهِ يَجْحَدُونَ
karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi
orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. (QS. Al ‘An’am ayat 33)
sedangkan
kufur karena juhud terbagi menjadi dua yaitu Juhud secara mutlaq dan Muqoyyad.
Adapun juhud secara MUqoyyad yaitu mengingkari kewajiban yang telah diwajibkan
dalam islam atau mengingkari keharaman yang telah diharamkan oleh Islam…. (hal
ini mengambil Faidah dari Kitab Madarijus Salikin Baina Manazil Iyyaka Na’budu
wa Iyyaka Nasta’in juz 1 hal 367)
perbedaan
antara Takdzib/ mendustakan dan juhud dari dua segi
:
a.    Bahwa kufur
karena juhud itu mengingkari dengan lisan disertai pengingkaran dengan hati.
b.    Bahwa kufur
karena juhud itu disertai dengan ‘inad(penentangan). (lihat Madarijus Salikin
Baina Manazil Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in juz 1 hal 366 dan lihat pula
kitab Nawaqidul Iman I’tiqodiyyah juz 2 hal 60)
  1. Apabila Hakim membolehkanberhukum dengan selain hukum Alloh- ini adalah istihlal-.
Ibnu
Taimiyyah berkata: seorang jika menghalalkan yang telah disepakati keharamannya
atau mengharamkan yang telah disepakati kehalalannya atau mengganti syariat
yang telah disepakati atasnya, maka ia kafir berdasarkan kesepakatan Ahli
Fiqih, dan seperti yang demikian ini Sebagaimana yang dikatakan salah satu dari
Ahli Fiqih. adalah sebab turunya ayat:
) وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ
الْكَافِرُونَ
( 

Maksud
ayat ini yaitu ia menghalalkan untuk berhukum selain hukum Alloh ta’ala
. (Majmu’ Fatawa juz 3 hal 267)

Sedangkan
dalil – dalil yang menunjukkan kafirnya istihlal adalah:
إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي
الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ
عَامًا لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ
اللَّهُ
Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah
kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu,
mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang
lain, agar mereka dapat mensesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya
maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (QS. At Taubah ayat 37)
وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ
لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ
Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar
mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah
menjadi orang-orang yang musyrik. (QS. Al An’am ayat 121)
Berkata Syeikh Abdul Latif
bin Abdur Rohman bin Hasan: ayat ini sebagaimana keadaan orang yang mentaati
kawan – kawan setan dalam menghalalkan apa yang Alloh haramkan dengan
disertai penetapan yang demikian itu
, maka sungguh ia adalah orang  musyrik. (Ar Rosail wal Masail an Najdiyyah
juz 3 hal 46).
  1. Menganggap
    sama antara Hukum Alloh dengan hukum buatan manusia
    ,
    firman Alloh ta’ala:
)
فَلا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ
(
Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. (QS. An
Nahl ayat 73).
  1. Menganggap bahwa
    selain Hukum Alloh lebih baik dari pada Hukum Alloh,
    perbuatan ini
    dinamakan Takdzib/ pendustaan terhadap Al – Qur’an. Alloh berfirman:
) وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْماً لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (.

dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi
orang-orang yang yakin? (QS. Al Maidah ayat 50).

  1. Menganggap
    bahwa selain Hukum Alloh adalah merupakan Hukum Alloh
    ,
    Alloh berfirman:
) أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ
يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ
(
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang
mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?!. (QS. Asy Syuuro
ayat 21) apabila terkumpul pada mereka (pembuat undang – undang buatan) antara
tasyri’ dan penganggapan bahwa ini adalah hukum Alloh maka hal ini dinamakan
Tabdil. (Diringkas dari kitab Al Burhanul Munir fii Dahdli Syubuhati Ahlit
Takfir wa Tafjir hal 11-12)

 

Setelah uraian diatas saya
akan mengajak anda untuk membunuh syubhat Siluman biawak.
Siluman berkata:Sebagaimana orang yang meyakini sebagian alam ini diciptakan
oleh selain Allah maka dia itu telah meyakini tuhan selain Allah, maka begitu
juga orang  yang meyakini bahwa sebagian manusia berhak membuat hukum maka
dia itu telah mepertuhankan orang-orang tersebut, karena pembuatan  hukum
adalh hak khusus ketuhanan……
Alloh berfirman:
 “Hak membuat hukum (putusan) itu hanya milik
Allah,”  [Al  An’am: 57, Yusuf: 40]
Kita katakan: sesungguhnya kata hukum
disini melibatkan hukum umum dan agama, Ibnu Taimiyyah berkata:
Dua hukum  bersama-sama yaitu  umum dan Syar’i -. (Majmu’ Fatawa juz 2 hal 413)
Jadi orang dikatakan sebagai tuhan dari segi pembuatan  hukum adalah ketika ia membuat hukum umum dan
Agama yang bertentangan dengan hukum Alloh. Wallohu a’lam
Perlu diketahui pula, bahwa berhukum dengan yang tidak terdapat
dalam al Qur’an bukan berarti meninggalkan hukum Alloh
. Adapun
yang menunjukkan hal ini adalah firman Alloh:
) وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَماً مِنْ
أَهْلِهِ وَحَكَماً مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلاحاً يُوَفِّقِ اللَّهُ
بَيْنَهُمَا
(
Dan jika kamu
khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari
keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang
hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada
suami-istri itu. (QS. AN Nisa’ ayat 35)
) يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ (

menurut
putusan dua orang yang adil di antara kamu. (QS. Al Maidah ayat 95)

sungguh telah tersesat khowarij
terdahulu karena berprasangka berhukum dengan semisal ayat ini(tentang bolehnya
berhukum dengan sesuatu yang tidak terdapat dalam al qur’an) termasuk berhukum
dengan selain hukum Alloh. Sebagaimana kisah perdebatan Ibnu Abbas rodliyallohu
‘anhuma dengan khowarij.
Siluman berkata: Dan  di karenakan Allah ta’ala tidak menyertakan satu
makhlukpun di dalam penciptaan, maka Diapun tidak memperkenankan satu
makhlukpun di dalam penetapan hukum aturan yang dilakukan kepada makhluk-Nya,
sebagaimana firman-Nya:
 “Dan Dia tidak menyertakan satu makhlukpun di
dalam hukum-Nya.” [Al Kahfi: 26]

Di dalam ayat tersebut Allah
menamakan penyertaan di dalam hak hukum sebagai syirik (penyekutuan), karena
Allah ta’ala telah menyebut penyandaran kewenangan pembuatan hukum sebagai
ibadah yang hanya boleh disandarkan kepada-Nya

 Kita katakan: perhatikanlah wahai Siluman,
apakah para pembuat undang – undang buatan itu mengatakan bahwa ini adalah
hukum Alloh sehingga mereka menjadi musyrik bahkan kafir?! Jika mereka tidak mengatakan
demikian, maka tidak benarlah pendalilan engkau dengan ayat ini. Renungkanlah!
(lihat Al Burhanul Munir Fii Dahdli Shubuhati Ahlit takfir hal 28)
Siluman berkata: “Mereka (orang-orang
nasrani) telah menjadikan alim ulama dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan
selain Allah dan (mempertuhankan) Al-Masih Ibnu Maryam (juga), padahal mereka
itu tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa,
tidak ada tuhan  yang berhak diibadati kecuali Dia, maha suci Dia dari apa
yang mereka persekutukan.” [At Taubah: 31]
Di dalam ayat ini Allah ta’ala telah
menvonis orang-orang nasrani dengan banyak vonis, di antaranya:


mereka telah mempertuhankan para alim ulama dan pendeta mereka


mereka beribadah kepada alim ulama dan pendeta-pendeta itu

mereka telah melanggar dan membatalkan syahadat tauhid laa ilaaha ilallaah
–         

mereka divonis musyrik (mempersekutukan Allah)


alim ulama dan para pendeta itu telah memposisikan diri sebagai arbab
(tuhan-tuhan)
Camkan vonis-vonis di atas, dan apa
gerangan yang telah mereka lakukan itu sehingga mendapatkan vonis-vonis itu?
Perhatikan ayat itu didalam hadits berikut ini:
“Al Imam Tirmidzi meriwayatkan
suatu hadits tentang tafsir peribadatan di dalam ayat itu, di mana Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat itu di hadapan ‘Adi Ibnu Hatim (saat
itu masih nasrani dan kemudian masuk Islam) dan ketika mendengar ayat itu
dengan vonis-vonis tersebut maka ‘Adi  berkata: “Kami (maksudnya ia
dan orang-orang nasrani) tidak pernah mengibadati mereka (alim ulama dan
pendeta),” maksudnya ‘Adi merasa bahwa dirinya dan kaumnya tidak pernah
mempertuhankan alim ulama dan pendeta, sehingga ia merasa heran dengan
vonis-vonis itu dan apa gerangan peribadatan yang dimaksudkan di dalam ayat
tersebut, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan seraya
bertanya:“Bukankah mereka (alim ulama dan pendeta itu menghalalkan apa yang
diharamkan Allah terus kalian ikut menghalalkannya, dan (bukankah) mereka itu
mengharamkan apa yang dihalalkan Allah terus kalian ikut juga
mengharamkannya?” Maksudnya bukankah mereka itu membuat hukum yang
menyelisihi hukum Allah dan kalian menjadikan hukum buatan itu sebagai rujukan
dan kalian loyal kepadanya? Maka ‘Adi menjawab: “Ya, benar” maka
Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan: “maka itulah bentuk
peribadatan kepada mereka,” Hadits ini dihasankan oleh Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah.
Sungguh nyata jelas bahwa perampasan
kewenangan pembuatan sebagian hukum adalah perampasan hak ketuhanan dan
pengklaiman sebagai tuhan, sedangkan loyalitas kepada hukum buatan itu adalah
kemusyrikan, peribadatan kepada si pembuat hukum dan mempertuhankannya. Apa
bapak-bapak paham?
Kita katakan: ketahuilah wahai siluman,
ta’at dalam ayat ini tidak terlepas dengan dua permasalahan:
  1. Ketaatan
    mereka dalam bermaksiat kepada Alloh yang bukan menghalalkan apa yang
    diharamkan Alloh, ini tidaklah kafir.
  2. Ketaatan
    mereka dalam hal menghalalkan apa yang diharamkan Alloh, maka ini tidak
    diragukan lagi akan kekafirannya. (ringkasan dari yang diutarakan Ibnu
    taimiyyah dalama Majmu’ fatawa juz 7
    hal 70 ).
Siluman berkata: Alloh
berfirman: “Dan bila kalian mematuhi mereka, maka sesungguhnya kalian adalah
benar-benar orang musyrik.”
Perhatikan vonis musyrik bagi orang yang
menyetujui penyandaran satu hukum saja kepada selain Allah atau loyalitas
kepada hukum buatan itu dan si pembuat hukumnya divonis sebagai wali syaitan
dan hukum yang  digulirkannya sebagai wahyu (bisikan syaitan).
Kita katakan: sesungguhnya ayat
ini menjelaskan tentang  penghalalan apa
yang diharamkan Alloh dan pengharaman apa yang dihalalkan Alloh, sebagaimana
keterangan saya yang telah lalu.
Berkata Syeikh Abdul Latif
bin Abdur Rohman bin Hasan: ayat ini sebagaimana keadaan orang yang mentaati
kawan – kawan setan dalam menghalalkan apa yang Alloh haramkan dengan disertai
penetapan yang demikian itu, maka sungguh ia adalah orang  musyrik
. (Ar Rosail wal Masail an
Najdiyyah juz 3 hal 46).
Siluman berkata:Dan di dalam ayat 60 surat
An Nisa, Allah menamakan hukum buatan sebagai thaghut yang harus diingkari:
Apa kamu memperhatikan
orang-orang yang mengaku bahwa mereka itu beriman kepada apa yang diturunkan
kepadamu dan apa yang diturunkan (kepada orang-orang) sebelummu, mereka itu
berkehendak untuk berhakim kepada thaghut padahal mereka telah diperintahkan
untuk ingkar terhadapnya. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan)
penyesatan yang sejauh-jauhnya.
Di sini Allah mencap hukum yang dirujuk
selain hukum-Nya sebagai thaghut, dan begitu orang atau lembaga yang
membuatnya, serta begitu juga orang yang memutuskan dengan berlandaskan
kepadanya, dan orang yang merujuk hukum kepada thaghut itu telah dianggap
bohong keimanannya oleh Allah ta’ala, yaitu hanya klaim (pengakuan belaka).
Kita katakan: sesungguhnya penjelasan
tentang ayat ini yaitu ditinjau dari beberapa segi:

I.      Bahwasanya ayat ini berporos mengenai
sifat Ahlul Iman yang dinilai sebagai pengklaiman saja yaitu seperti orang
munafiq yang berhukum dengan hukum thogut serta memiliki kesamaan sifat dengan
mereka akan tetapi hal itu tidak mewajibkan kekafiran atas mereka. (lihat\
Jamiul Bayan Fii Tafsiril Qur’an juz 5 hal 99) demikian pula dengan berhukum
dengan selaian Hukum Alloh juga merupakan menyerupai orang munafiq tetapi hal
itu tidak mewajibkan kekafiran atas mereka kecuali dengan dalil yang lain,
sebagaimana pula kadang Ahlul Iman menyerupai orang munafiq dalam hal dusta dan
tidak pula dikafirkan karena sebab itu. Kesimpulannya berdalil dengan ayat ini
untuk mengkafirkan orang yang tidak berhukum dengan hukum Alloh tanpa disertai
istihlal adalah keliru.

II.    Yang dimaksud ayat itu dengan
kata- kata  iman mereka hanya pengklaiman
saja yaitu jika mereka tidak meyakini wajibnya mengngkari Thogut. (Lihat Al
Burhanul Munir hal 28)
III.   Bahwa penafian iman disini
adalah Imanul Wajib bukan Ashlul Iman, sebagaimana dalam asbabun Nuzul ayat ini
ketika seorang sahabat Anshor menolak hokum Alloh akan tetapi Rosululloh tidak
mengkafirkannya. Ibnu Taimiyyah berkata:
Maksud disini bahwa apa – apa yang dinafikan Alloh dan
Rosulnya dari yang disifati dengan nama – nama perkara yang wajib seperti Iman,
Islam, agama, sholat, puasa, thoharoh, haji dan lain sebagainya  adalah menunjukkan menghilangkan iman yang
wajib, diantara contoh firman Alloh yang menjelaskan hilangnya iman yang wajib
adalah:
)
فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا
شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجاً مِمَّا قَضَيْتَ
وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيماً
(
(Majmu’ Fatawa juz 7 hal 37)

Siluman berkata: Ya, para pembuat hukum
selain Allah itu selain divonis sebagai arbab/tuhan tuhan palsu (At Taubah: 31)
atau sebagai wali-wali syetan (Al An’am: 121)  atau  thaghut (An
Nisa: 60), maka mereka juga divonis sebagai syuraka (sekutu-sekutu yang
disembah) di dalam firman-Nya:

 “Atau apakah mereka memiliki syuraka
(sekutu-sekutu yang disembah) yang menetapkan bagi mereka dari dien (aturan
hidup) ini apa yang tidak Allah izinkan.” [Asy Syura: 21]
Kita katakan: dikatakan
Syuroka’ apabila mereka
Menganggap bahwa selain
Hukum Alloh adalah merupakan Hukum Alloh
Dan apabila terkumpul pada mereka (pembuat
undang – undang buatan) antara tasyri’ dan penganggapan bahwa ini adalah hukum
Alloh maka hal ini dinamakan Tabdi
l. (Diringkas dari kitab Al Burhanul Munir fii Dahdli Syubuhati
Ahlit Takfir wa Tafjir hal 11-12)
Siluman berkata: Sedangkan penyembahan
(peribadatan) kepada syuraka (para pembuat undang-undang) itu bukanlah dengan
sujud, ruku dan shalat kepadanya, akan tetapi dengan loyalitas, kepatuhan dan
kesetiaan serta ketaatan kepadanya sebagaimana penjelasan At Taubah ayat 31
berikut tafsir nabawi terhadapnya, dan sebagaimana penegasan Al An’am ayat 121
yang lalu:
 “Dan bila kalian mematuhi mereka, maka
sesungguhnya kalian adalah benar-benar orang musyrik.”
Kita katakan: telah berlalu
penjelasan mengenai hal ini, bahwa yang dimaksud ta’at disini adalah a’at dalam
hal istihlal.
Siluman berkata: Al Imam Ibnu Katsir
berkata:

من ترك
الشرع المحكم المنزل على محمد بن عبد الله خا تم الانبياء وتحا كم الى غيره من
الشرائع النسوخة كفر فكيف بمن تحاكم الى الياسا وقدمها عليه فهو كافر باجماع
المسلمين

 “Barangsiapa meninggalkan
aturan (hukum) yang baku yang diturunkan kepada Muhammad Ibnu Abdullah penutup
para nabi dan malah merujuk pada hukum-hukum (Allah) yang lain yang sudah
dinasakh (dihapus) maka dia itu kafir. Maka bagaimana dengan orang yang merujuk
hukum kepada Alyasa dan lebih mendahulukannya terhadap aturan (yang diturunkan
kepada Muhammad) itu, maka dia itu adalah kafir berdasarkan ijma (kesepakatan)
kaum muslimin.” [Al Bidayah Wan Nihayah 13/119]
Al Yasa adalah Yasiq yaitu kitab
undang-undang hukum pidana yang dibuat Jenggis Khan yang memuat aturan hukum
yang dia ambil sebagian dari yahudi, sebagian dari nasrani, sebagian dari
Islam, sebagaian dari ahli bid’ah dan sebagian dari buah pikirannya. Persis
seperti kitab-kitab hukum yang dipakai oleh bapak-bapak, yaitu buatan manusia,
dimana ada yang dari nasrani (Belanda) seperti Kuhap, ada yang dari Islam
seperti yang dipakai di PA, ada yang disponsori Amerika seperti UU anti jihad
(yang disebut terror), dan hasil buah pikiran anggota dewan. Tapi semua itu
menjadi hukum yang baku setelah ditetapkan dan disahkan oleh thaghut negeri, sebagaimana
Al Yasa menjadi hukum yang baku setelah ada pengesahan Jenggis Khan…. Bagaimana
vonis dari ulama bagi orang yang merujuk kepadanya? Lihat ucapan Ibnu Katsir di
atas!
Kita katakan: perkataan Ibnu Katsir di atas
dikatakan saat membahas kekafiran penguasa Tartar. Mereka (penguasa Tartar)
telah mengutamakan hukum Yaasiq dan mengunggulkannya di atas syari’at Allah
ta’ala. Dan lebih rinci seperti apa keadaan mereka, berikut penjelasannya –
sebagaimana dikatakan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah – :
Mereka
menjadikan agama Islam seperti agama Yahudi dan Nashrani, dan bahwa semua
(agama) ini merupakan jalan menuju Allah. (Kedudukan agama-agama tersebut)
seperti kedudukan madzhab yang empat pada kaum muslimin. Lalu di antara mereka
ada yang memilih agama Yahudi, Nashrani, atau agama Islam” [Majmu’ Al-Fataawaa,
28/523].
Beliau
juga berkata: “Hingga wazir (menteri) mereka yang buruk, mulhid (atheis), lagi
munafiq menulis satu tulisan yang isinya bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa
sallam meridlai agama Yahudi dan Nashrani, dan beliau tidak mengingkari mereka,
tidak mencela mereka, tidak melarang mereka dari agama mereka, serta tidak
menyuruh mereka untuk pindah kepada agama Islam” [idem, 28/526].
Beliau
juga berkata “Orang ini dan semisalnya dari pendahulu mereka mempunyai tujuan –
setelah Islam – untuk menjadikan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam
seperti kedudukan orang terlaknat ini (yaitu Jenghis Khaan).
Dan
telah diketahui bahwa Musailamah al-kadzdzaab lebih sedikit kemudlaratannya
pada keum muslimin daripada orang ini. Musailamah dulu mendakwakan dirinya
sebagai sekutu Muhammad dalam hal risalahnya. Atas dasar ini, para shahabat
menghalalkan untuk membunuhnya dan membunuh para pendukungnya dari kalangan
murtadiin. Lantas, bagaimana dengan orang yang menampakkan dirinya sebagai
seorang muslim namun menjadikan Muhammad seperti Jenghis Khaan ?!” [idem,
28/522].
Beliau
juga berkata “Sebagaimana dikatakan orang terbesar mereka tedahulu saat datang
ke negeri Syaam, yang berbicara kepada utusan-utusan kaum muslimin dan mendekat
kepada mereka serta mengaku bahwa mereka adalah kaum muslimin. Ia berkata :
‘Dua orang ini adalah ayat terbesar yang datang dari sisi Allah’, mereka adalah
Muhammad dan Jenghis Khaan. Maka ini tujuan orang terbesar mereka terdahulu
ketika mengadakan pendekatan kepada kaum muslimin dengan menyamakan Rasulullah
– makhluk paling mulia, penghulu anak Adam, dan penutup para Rasul – dengan
raja kafir, musyrik yang dia itu termasuk sebesar-besar orang musyrik dalam
kekafiran, kerusakan, permusuhan, seperti Nebukadnezar dan semisalnya” [idem,
28/521].
Beliau
juga berkata “Yang demikian itu karena keyakinan orang-orang Tartar terhadap
Jenghis Khan sangat besar. Mereka meyakini bahwa ia adalah anak Allah seperti
keyakinan orang Nashrani terhadap Al-Masih. Mereka mengatakan : Sesungguhnya
matahari menghamili ibunya, dahulu ibunya ada di sebuah kemah lalu turunlah
matahari dari lubang kemah dan masuk ke dalamnya hingga hamil. Padahal sudah
diketahui oleh setiap orang yang beragama bahwa ini adalah sebuah kedustaan,
dan ini merupakan dalil bahwa ia adalah anak zina, dan ibunya berzina, lalu
menyembunyikan perbuatannya itu dan mendakwakan hal ini agar terlepas dari aib
perzinaan” [idem, 28/521].
Beliau
juga berkata “Mereka juga menjadikannya sebagai utusan yang paling mulia di
sisi Allah dalam pengagungan apa-apa yang disunnahkan dan disyari’atkannya atas
dasar prasangka dan hawa nafsunya, sampai-sampai mereka mengatakan ketika
mereka memiliki sebagian harta : ‘Ini adalah rizki dari Jenghis Khan’. Mereka
mensyukurinya ketika makan dan minum, mereka menghalalkan untuk membunuh orang
yang memusuhi apa-apa yang disunnahkan bagi mereka oleh orang kafir yang
terlaknat ini, yang memusuhi Allah, para Nabi dan Rasul-Nya, serta para
hamba-Nya yang beriman” [idem, 28/521-522].
Inilah
di antara keadaan raja Tartar yang masuk agama Islam dan berhukum dengan selain
yang diturunkan Allah dengan pengingkaran dan penghalalan. Mereka juga
tenggelam dalam hal-hal yang membatalkan ke-Islaman mereka. Jika demikian, maka
tidak ada perbedaan pendapat mengenai kekafiran mereka ini. Inilah yang
dimaksud dengan objek ijma’ kekafiran orang yang tidak berhukum dengan hukum
Allah
.
Hal ini sangat selaras dengan perincian yang disebutkan Ibnu Katsir saat
membahas ayat hukum :
“Barangsiapa
yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang kafir’ (QS. Al-Maaidah : 44). Yang demikian itu karena mereka
mengingkari (juhd) hukum Allah secara sengaja dan penuh pembangkangan.
Sedangkan dalam ayat ini Allah ta’ala berfirman : ‘(Barangsiapa yang tidak
memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah), Maka mereka itu adalah
orang-orang yang dhaalim’ (QS. Al-Maaidah : 45). Yang demikian itu karena
mereka tidak berlaku adil kepada yang didhalimi atas tindakan orang dhalim
dalam perkara yang telah diperintahkan Allah untuk ditegakkan keadilan, dan
(memberlakukan) secara sama di antara semua umat manusia. Namun mereka
menyalahi dan berbuat dhalim” [Tafsir Ibnu Katsir 3/120, tahqiq : Saamiy bin
Muhammad Salaamah; Daaruth-Thayibah, Cet. 2/1420 H].
Perhatikan
! Al-Haafidh Ibnu Katsir telah memerinci siapa yang kafir dan siapa yang tidak
kafir ketika seseorang berhukum dengan hukum selain yang diturunkan Allah.
Mereka yang kafir adalah mereka yang mengingkari dengan penuh pembangkangan.
Sedangkan yang orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah karena terpengaruh
hawa nafsunya, sementara dalam hatinya masih mengakui eksistensi dan kewajiban
untuk berhukum dengan hukum Allah – tidak dikafirkan. Ia termasuk orang yang
salah lagi dhalim.
Dan
sebelumnya, beliau juga membawakan riwayat :
“Telah
berkata ‘Aliy bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas mengenai firman-Nya :
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka
mereka itu adalah orang-orang yang kafir ; ia berkata : Barangsiapa yang
mengingkari apa yang telah diturunkan Allah, berarti ia benar-benar kafir. Dan
barangsiapa yang mengakuinya, namun tidak menjalankannya, maka adalah orang
yang dhalim lagi fasiq” [Tafsir Ibnu Katsir, 3/119].
Penjelasan
perincian dari Ibnu Katsir mengenai masalah tahkim (berhukum) dengan selain
yang diturunkan Allah adalah menyepakati perincian yang telah
ditetapkan
oleh Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma di atas..
siluman berkata: Syaikhul islam Ibnu
Taimiyyah berkata:
 “Orang dikala menghalalkan hal haram yang
disepakati keharamannya, atau mengharamkan hal yang disepakati kehalalannya,
atau mengganti aturan yang disepakati maka dia itu kafir murtad dengan
kesepakatan ulama.” [Majmu Al Fatawa 3/276]
Penghalalan itu banyak bentuknya, di
antaranya peniadaan sangsi terhadap pelakunya. Pengharaman juga banyak
bentuknya, di antaranya penetapan hukum sangsi bagi pelakunya. Di Islam orang
yang berzina ridla adalah dosa dan ada sangsi hukum, baik sedang hamil ataupun tidak,
baik di atas umur 17 tahun atau di bawahnya selagi dia baligh.
Tapi coba bagaimana dalam hukum yang
bapak-bapak pakai, apakah dua lajang yang ridla sama ridla lagi di atas umur 17
tahun dan tidak hamil terus berzina, apa ada sangsi hukum? tidak ada, ini
artinya halal dalam hukum bapak-bapak…
Orang tua mendidik anaknya dengan memukul
si anak karena tidak mau shalat, di Islam adalah ajaran dan bahkan
diperintahkan dengan sabda Rasul:
 “Dan pukullah anak-anak karena tidak shalat
sedangkan mereka berumur sepuluh tahun.” [Hadits Shahih]
Tapi bagaimana dalam hukum bapak-bapak bila
si anak mengadukan pemukulan itu kepada polisi, apa hukumannya? Dia kena pasal
kekerasan dalam rumah tangga khan?
Kalau merubah aturan hukum, maka ini sudah
diketahui umum, potong tangan dalam pencurian diganti dengan penjara (pasal
362, 363 Kuhap) dera dan rajam bagi pezina diganti dengan penjara bila dianggap
melanggar pasal 285 Kuhap, qishash dan diyat serta kaffarat bagi pembunuh
diganti dengan penjara (pasal 338, 340 Kuhap sesuai motif) dan lain
sebagainya….
Kita
katakan: apa yang dikatakan Ibnu Taimiyyah adalah benar adanya, akan tetapi
penafsiran silumanlah yang keliru, alangkah bagusnya ucapan seorang penyair:
إن كنت لا تدري فتلك مصيبة وإن
كنت تدري فالمصيبة أعظم

 

Bila engkau
tidak mengetahui, maka itu adalah bencana
Dan bila
engkau mengetahui, maka bencananya lebih besar.

yang dinamakan menghalalkan sebagaimana yang dimaksud oleh Ibnu Timiyyah adalah
,menghalalkan  zina, riba, atau yang
selainnya dari hal-hal yang diharamkan secara ijma’, maka dia kafir dan
melakukan kufur besar (keluar dari Islam), dzalim dengan kedzaliman yang besar,
serta fasiq dengan kefasiqan yang besar..” [Asy-Syarqul-Ausath no. 6156, 12-5-1416
H].

adapun
bagi orang yang membuat UU, imam Al Qurthubi berkata:…Penjelasannya adalah :
Sesungguhnya seorang muslim bila dia mengetahui hukum Allah ta’ala pada perkara
tertentu, kemudian dia tidak menjalankannya, jika hal itu dilakukan karena
pengingkarannya (terhadap hukum tersebut), maka dia kafir dan ini tidak
diperselisihkan lagi. Namun jika tidak demikian (tidak mengingkari), maka dia
termasuk orang yang berbuat dosa besar, karena dia masih mengakui pokok hukum
tersebut dan mengetahui kewajiban menjalankan hukum tersebut, tapi dia
bermaksiat dengan meninggalkannya. Demikian pula halnya dengan perkara-perkara
yang hukumnya sudah diketahui dengan gamblang dari syari’at ini seperti shalat
dan selainnya berupa kaidah-kaidah yang sudah dimaklumi. Inilah madzhab
Ahlus-Sunnah” [Al-Mufhim limaa Asykala min Talkhiisi Kitaabi Muslim,
5/117].
Sedangkan makna Tabdil adalah orang yang membuat
hukum selain hukum Alloh dengan menganggap itu adalah hukum Alloh. Sedangkan orang
yang membuat hukum selain hukum Alloh baik itu melalui parlemen atau yang lain
dalam
keadaan dia tidak meyakini bahwa itu adalah hukum Alloh, maka orang tersebut
tidaklah melakukan tabdil dan tidak kafir
. Ibnul Arobi berkata:
“Dan
ini berbeda : Jika dia berhukum dengan hukum dari dirinya sendiri dengan
anggapan bahwa ia dari Allah maka ia adalah tabdiil (mengganti) yang mewajibkan
kekufuran baginya
. Dan jika dia berhukum dengan hukum dari dirinya
sendiri karena hawa nafsu dan maksiat, maka ia adalah dosa yang masih bisa
diampuni sesuai dengan pokok Ahlus-Sunnah tentang ampunan bagi orang-orang yang
berdosa
” [lihat Ahkaamul-Qur’an juz 2 hal. 624].

 

Apa
yang dikatakan oleh Ibnu ‘Arabi ini sama seperti yang dikatakan oleh
Al-Qurthubi dalam Tafsir-nya (juz 6 hal. 191 – yang merupakan penjelasan Imam
Thawus dan selainnya) dan Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa ( juz 3 hal. 268).
Bisa jadi orang yang berhukum dengan selain hukum Allah itu hanya melakukan
kekufuran ashghar saja (yang bukan termasuk kufran bawwaahan). Kita harus
berhati-hati dalam masalah ini. Tidak boleh kita menghilangkan sifat iman dan
Islam dari seorang muslim tanpa hujjah dan alasan yang dibenarkan syari’at.
Dan
puncak penjelasan dari bagian ini adalah hadits Hudzaifah bin Yaman
radliyallaahu ’anhu :
“Akan
ada sepeninggalku nanti para pemimpin yang tidak mengambil petunjukku, dan
tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul pula di tengah-tengah
kalian orang-orang yang hatinya adalah hati syaithan dalam wujud manusia”. Aku
(Hudzaifah) bertanya : “Apa yang harus aku lakukan jika aku mendapatkannya?”.
Beliau menjawab : “(Hendaknya) kalian mendengar dan taat kepada amir, meskipun
ia memukul punggungmu dan merampas hartamu, tetaplah mendengar dan taat” [HR.
Muslim no. 1847]
Hadits
ini telah menjelaskan tentang kemaksiatan yang dilakukan penguasa baik yang ia
lakukan pada diri sendiri ataupun pada orang lain (rakyatnya); baik kemaksiatan
itu merupakan sebuah sistem atau bukan merupakan sebuah sistem.
’Ali
Al-Qari berkata ketika menjelaskan hadits di atas dalam penyebutan sifat-sifat
pemimpin yang diisyaratkan Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam :
”….
Tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku” ; adalah dalam hal ’ilmu. ”Tidak
mengambil sunnah dengan sunnahku” ; adalah dalam hal amal. Maknanya adalah
bahwa pemimpin-pemimpin tersebut tidak mengambil Al-Qur’an dan As-Sunnah (dalam
menjalankan kekuasannya)” [Mirqatul-Mafaatih Syarh Misykaatil-Mashaabih juz 5
hal. 113; Maktabah Al-Misykah]. Wallohu a’lam
Siluman berkata: Al  Imam Muhammad
Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah berkata:
 “Sesungguhnya orang-orang yang mengikuti
undang-undang buatan (undang-undang positif) yang disyariatkan oleh syaitan
lewat lisan wali-walinya seraya menyelisihi apa yang telah Allah syariatkan
lewat lisan para rasul-Nya shalawatullah wa salamuhu ‘alaihim, adalah bahwa
tidak ada yang meragukan perihal kekafiran dan kemusyrikan mereka kecuali orang
yang telah Allah tutup bashirahnya dan telah Dia butakan dari melihat cahaya
wahyu, seperti mereka.” [Tafsir Adlwaul Bayan, dalam tafsir surat Asy
Syura]
Kita katakan: sulaiman berusaha
mengelabuhi para pembaca dengan penukilannya terhadap apa yang dikatakan oleh
Imam Asy Syinqithiy. Perlu diketahui bahwa kebiasaan Ahlul Bid’ah adalah
memenggal perkataan Ulama’ agar menyelarasi kebusukan pemikirannya. Dalam permasalahan
Tahkim imam Asy Syinqithiy member penjelasan secara rinci dan hal ini tidak
dinukil oleh Siluman karena pahit rasanya bagi dia dan supaya agar tidak
ketahuan pemikiran busuknya. Imam Asy Syinqithiy berkata:
 “Dan penjelasan yang paling benar dalam
permasalahan ini, adalah: kata kekufuran kedloliman, kefasikan, semuanya kadang
kala digunakan dalam syariat, dan dimaksudkan darinya adalah perbuatan maksian,
dan kadang kala dimaksudkan darinya adalah kekufuran yang menjadikan pelakunya
keluar dari agama. Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum yang Allah
turunkan, dalam rangka menentang para Rasul, dan menggugurkan hukum-hukum
Allah, maka kedloliman, kefasikan, dan kekufurannya adalah kekufuran yang
mengeluarkannya dari agama. Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum
yang Allah turunkan, sedangkan ia meyakini bahwa ia telah melakukan perbuatan
haram, menjalankan perbuatan yang buruk, maka kekufuran, kedloliman, dan
kefasikannya tidak menjadikannya keluar dari agama”. (Tafsir Adlwa’ul Bayan juz
2 hal 93)
Saya memohon kepada Alloh dzat
yang Maha Kuat lagi Perkasa agar melenyapkan kebatilan dan memenangkan
kebenaran serta menjaga hati kaum muslimin dari berbagai syubhat yang banyak
lagi bertebaran.
إِنْ أُرِيدُ إِلا الإصْلاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلا
بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
Aku
tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih
berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan)
Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.
Mujahid As Salafiy

About Abu Fathan As Salafy

Anak Yang Tampan

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: