//
you're reading...
Majalah AL FURQON

Majalah Al Furqon Edisi 8 Tahun 12


ADAKAH MUDHARABAH SYAR’IYAH DALAM PERBANKAN SYARI’AH?

Akad mudharabah yang berarti akad serikat dagang antara dua pi­hak (pemodal dan pelaksana usaha) dengan pembagian keuntungan se­cara persentase yang disepakati adalah salah satu akad bisnis yang jelas disyari’atkan, bahkan disepakati ulama tentang bolehnya. Hal itu lantaran di balik syari’at mudharabah tersimpan kemaslahatan bagi kedua belah pi­hak untuk bersama-sama membangun kekuatan ekonomi yang produk­tif, memupuk kebersamaan, dan mengembangkan potensi yang dimiliki seorang.

Kita semua harus optimis dan apresiatif untuk mendukung akad bisnis syari’ah ini dan mengembangkannya dalam kehidupan pada zaman ini guna membangun perekonomian yang stabil sesuai dengan rambu-ram- bu agama. Kita semua sudah muak dengan sistem perekonomian yang dibangun di atas landasan-landasan riba yang penuh dengan kezaliman dan penjajahan kepada umat manusia. Sekali lagi, kita sangat optimis jika kita menerapkan sistem ekonomi Islami maka dalam waktu dekat—insya Allah—kita akan bangkit dari keterpurukan yang melilit umat sekarang ini.

Namun, harus kita ingat bahwa dalam menjalankan mudharabah ini, kita mesti benar-benar menerapkannya sesuai aturan syar’iah yang diban­gun di atas keadilan dan menghilangkan segala bentuk kezaliman. Salah satunya adalah kejelasan pembagian keuntungan sehingga tidak menim­bulkan percekcokan di kemudian hari serta berani menanggung bersama kerugian yang dialami.

Ternyata semangat menghidupkan sistem mudharabah ini dilirik oleh bank-bank yang beredar pada zaman sekarang, terutama yang berlabel “syari’ah”. Namun, sudahkah mereka betul-betul menerapkan mudhara­bah sesuai dengan syari’ah?! Ini adalah pertanyaan besar yang perlu dikaji bersama, sebab kenyataannya masih banyak bank yang tidak menerap­kan aturan-aturan syar’i dalam mudharabah. Misalnya, bank tidak mau menanggung kerugian yang dialami pihak pelaksana usaha. Bank hanya ingin mengeruk keuntungan tanpa mau tahu tentang kerugian yang diala­mi oleh partner bisnisnya, padahal—sudah barang tentu —itu merupakan wujud kezaliman nyata dan penerapan teori riba yang hanya mau untung­nya saja tetapi tidak mau menanggung rugi, padahal untung-rugi dalam bisnis adalah suatu hal yang lazim terjadi.

Oleh karenanya, sudah saatnya bagi kita mempelajari bersama tentang mudharabah (serikat dagang) yang sesuai aturan syari’ah dan tidak silau dengan sekadar label-label semata. Marilah kita kaji bersama mudharabah syari’ah sehingga kita bisa mengetahui jawaban pertanyaan di atas: Ada Mudharabah Syari’ah Dalam Perbankan Syari’ah?!!

Baca Ebook http://www.docstoc.com/docs/document-preview.aspx?doc_id=146873401

About Abu Fathan As Salafy

Anak Yang Tampan

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: